Seorang bocah berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri.
Jakarta - Seorang
bocah berinisial YBS (10), siswa kelas IV pada salah satu sekolah dasar di
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT),
dbunuh diri, Kamis (29/1/2026). Sebelum bunuh diri, korban sempat
meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu
tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang. Kondisi kemiskinan pun menjadi
sorotan dalam tragedi ini.
Seperti yang dilansir Liputan6.com, tragedi bocah SD bunuh
diri, membuka mata semua orang. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan
Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar memandang kasus seorang siswa SD
berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara timur, yang bunuh diri
karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000, harus menjadi cambuk
bagi semua pihak.
“Ya, ini harus menjadi cambuk
ya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa
(3/2) malam.
Kasus ini menjadi pengingat agar
semua pihak membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun. “Kita juga
harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Menteri Sosial, Saifullah
Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan insiden yang dialami anak
tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.
“Kami prihatin, turut berduka.
Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama
pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat
data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem,
red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul dilansir Antara.
“(Insiden) Ini sungguh-sungguh
menjadi keprihatinan kita bersama,” kata dia.
Anggota Komisi VIII DPR RI Ina
Ammania menilai kasus bunuh diri siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada,
NTT harus menjadi alarm serius bagi negara dalam menjamin perlindungan dan
pemenuhan hak pendidikan anak.
“Ini harus menjadi alarm serius
bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk
hak-haknya,” katanya.
Dia mengingatkan, negara telah
mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar, termasuk menyediakan
berbagai bantuan sosial bagi masyarakat miskin melalui sejumlah kementerian.
Dengan demikian, kasus seperti itu seharusnya tidak terjadi.
Kemiskinan Ekstrem
Akar masalah kasus ini adalah
kemiskinan ekstrem. Karena itu, Mensos Gus Ipul menekankan pentingnya membangun
basis data Kementerian Sosial agar menjangkau seluruh keluarga di Indonesia.
Termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem (desil-1),
dan kategori miskin (desil-2).
“Ini hal yang sangat penting.
Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin
sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan
perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan,” ucapnya.
Sumber Berita : Kemiskinan
dan Tragedi Bocah SD di NTT Bunuh Diri: Cambuk Buat Kita Semua















.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)











.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)




.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
