RENUNGAN RAMADHAN : MENYELAMI UNTAIAN DOA

 


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: "Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka."

Prolog :

Banyak manusia tanpa menyadari bahwa ketika ia berdoa akan membuka jati dirinya di hadapan Allah SWT, apakah ia hamba dunia ataukah ia hamba akhirat.

Ketika ia berdoa, lalu seluruh permintaannya didominasi oleh material duniawi, maka itu cermin bahwa ia telah diperbudak dunia hingga permintaannya pun tak jauh dari urusan dunia yang hakikatnya akan ia tinggalkan.

Sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abbas RA yang artinya :

“Ada suatu kaum Badui Arab yang datang ke suatu tempat dan berdoa, ‘Ya Allah berikanlah tahun yang penuh dengan hujan, kesuburan, keberuntungan dan kelahiran anak yang baik’. Sedangkan mereka tidak menyebutkan sedikit pun tentang perkara akhirat”

Dunia dan akhirat itu tak bisa seimbang karena perbedaan yang mencolok antara keduanya.

Surga itu tak ternilai harganya dan dunia hanyalah recehan yang pasti akan rusak ketika kiamat menyapa. Oleh karena itu, seseorang yang yakin terhadap akhiratnya, ia akan memusatkan perhatiannya ke negeri akhirat dari pada urusan dunia. Kalaulah hamba beriman meminta dunia, maka dunia pun meminta kepada Allah untuk membantu kelancaran urusan mereka kelak di akhirat, bukan dunia sebagai penampilan kemewahan dan sarana berbangga-bangga dengan banyaknya harta.

Karena mereka yang telah jatuh hati dengan negeri Impian yakni surga, akan terus bermimpi dengan negeri ini. Tak lelah merintis bisnis ketaatan untuk mewujudkannya hingga doa pun selalu tertuju ke sana. Inilah orang-orang yang Allah puji, mereka yang tak melihat dunia kecuali hanyalah jembatan untuk menuju negeri Impian;surga.

Mereka sadar sekali, bahwa semua kunci dunia tak akan sebanding dengan nikmat surga, sebagaimana mereka pun juga sadar bahwa siksa akhirat akan menghilangkan seketika, nikmat dunia sepanjang hayat dikandung badan juga menghilang dalam seketika.

Tadabbur Doa

Sering sekali kita menafsirkan bahwa arti kebaikan yang kita lantunkan dalam do aini ialah banyak harta dan materi yang terkumpul. Padahal standar kebaikan Allah SWT tak berhubungan dengan dunia.

Bahkan dalam banyak kasus, sering kali Allah SWT Ketika sudah membenci suatu kaum yang ia murkai, maka justru Allah membukakan pintu kesenangan duniawi yang berlimpah, yang tak pernah ia reguk menjadi mudah ia genggam, supaya ia semakin tenggelam dalam gelimang dunia tersebut (Istidjad) lalu terhenyak ketika dimatikan oleh Allah SWT.

Ini semua tertuang dalam QS. Al-An’am : 44 sebagaimana tertulis di bawah ini :

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ ۝٤٤

Artinya : “Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al An’am : 44)

Tafsir Wajiz :

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, atas respons mereka tersebut Kami pun membukakan semua pintu kesenangan duniawi untuk mereka dan mereka pun lalu bersikap sombong, merasa tidak butuh pihak lain, termasuk kepada Allah. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba sehingga tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bertobat, maka ketika itu mereka terdiam tidak berkutik karena diliputi penyesalan dan putus asa.

Kalaulah urusan dunia dari sederet mobil, rumah dan emas pun bukan tanda kebaikan dunian akhirat. Lalu sebenarnya hakikat kebaikan dunia akhirat itu terwujud dalam hal apakah?

Ketika kita menafsirkan ayat 201 QS. Al-Baqarah di atas : “kebaikan di dunia”, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata,”Maksudnya Adalah ilmu dan ibadah”

Dan Ketika menafsirkan firman Allah SWT isi ayat selanjutnya dari ayat 201 QS. Al-Baqarah tersebut : ”Dan kebaikan di akhirat”, Beliau berkata,”Maksudnya Adalah surga”

Inilah tafsir yang paling baik, karena kebaikan yang paling tinggi Adalah ilmu (syar’i) yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Ilmu yang berbuah manis dengan ketaatan itulah sejatinya arti dari Hasanah yang kita sebutkan dalam doa, karena kita semua mengetahui bahwa surga identik dengan ilmu selayak ikan identik dengan air.

Ketika Allah SWT akan mengubag Nasib seseorang di akhirat, maka Allah pun menganugerahkan kepadanya ilmu akhirat yang berujung pada amal saleh, sehingga dia berjalan sesuai kecintaan serta keridhaan-Nya. Ia pun mampu membedakan mana jalan surga dan manakah jalan neraka, mampu, mengiris antara jalan keburukan dan jalan keselamatan. Dan semua itu bisa diraih dengan sebuah pintu yang Bernama ILMU.

 

Sumber berita :

1.   https://quran.nu.or.id/al-anam/44

2.  Dinukil dari Letter to Allah, menyelami untaian doa 40 Rabbana di dalam Al-Qur’an karya ABU BASSAM OEMAR MITA

0 comments:

Posting Komentar